Selasa, 26 Februari 2013

Legenda Tukmudal

Asal Usul Desa Tukmudal


Raden ganda Mulya alias Pangeran Atas Angin atau Raden Walangsungsang mendapat tugas dari ayahhandanya  untuk mencari adiknya Prabu Gagak Sengara yang sudah lama meninggalkan istana Pajajaran. Usaha pencariannya belum juga mendapatkan hasil walau hampir seluruh pelosok daerah telah jelajahinya. Raden Ganda Mulya meneruskan pencariannya hingga tiba disuatu daerah yang dipenuhi pohon jati besar –besar yang sudah berumur ratusan tahun dan disekelilingnya di tumbuhi alang-alang. Sungguh diluar dugaan, disitulah Raden Ganda Mulya dipertemukan dengan adiknya.

Raden Ganda Mulya sangat bergembira dapat bertemu kembali dengan adiknya yang sudah lama menghilang. Keduanya memutuskan untuk sementara menetap di daerah itu. Oleh karena tempatnya sangat sejuk, hutannya tertata rapih dan aman tanpa gangguan apapun, sehingga dipastikan wilayah ini berada dalam suatu pemerintahan yang adil dan makmur.  
Selanjutnya raden Ganda Mulya yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Blewuk menamakan tempat ia bermukim itu Wanakerta, dan ia dikenal pula sebagai Ki Gede Wanakerta. “Wana” artinya hutan, dan “Kerta” artinya aman sejahtera.  Pada suatu saat ketika Ki Blewuk sedang asyik menanam alang-alang , tiba-tiba serombongan kerbau milik Ki Gede Matangaji datang merusak, dan tanaman alang-alang yang ditanamnya habis dimakan kerbau-kerbau yang memiliki tanduk panjang ke depan tersebut. Saking kesalnya, Ki Blewuk menangkap kerbau-kerbau tersebut lalu menekukan tanduk-tanduknya ke bawah, sehingga tanduk kerbau menjadi dongkol, melengkung ke bawah. ( Konon sejak peristiwa itulah tanduk kerbau bentuknya tidak lurus ).
Ki Gede Matangaji tidak menanggapi laporan masyarakat Wanakerta bahwa kerbaunya merusak tanaman Ki Blewuk. Namun ia menjadi marah tak terkira melihat tanduk kerbau-kerbau kesayanganya dongkol melengkung ke bawah. Segeralah ia mengumpulkan pasukannya untuk membuat perhitungan kepada Ki Blewuk.
Ketika Ki Gede Matangaji datang bersama pasukannya, Ki blewuk tidak langsung menghadangnya, namun ia hanya mengambil sajadah dan menghamparkannya diatas tanaman alang-alang intuk meleksanakan shalat.
Ki Gede Matangaji beserta pasukannya sangat terkesima, tidak berani mendekat melihat kesaktian Ki Blewuk yang sangat tinggi. Tanpa pertarunga Ki gede Matangaji beserta pasukannya kabur tunggang langgang meninggalkan Ki Blewuk yang sedang melaksanakan shalat.
Pasukan Wanakerta datang untuk melucuti semua senjata dan pusaka yang ada. Ki Gede Matangaji ketakutan dan melarikan diri ke wilayah timur yaitu daerah Semarang.  Demikian pula pasukan Matangaji tidak ada yang berani menampakan diri, kecuali seorang pawongannya yang bernama Tumenggung Bule.
Setelah Ki Blewuk bersama pasukannya kembali ke Wanakerta, Tumenggung Bule mengumpulkan sisa-sisa pusaka yang ada, lalu dimasukan kesebuah  peti kandaga yang terbuat dari kayu jati tua. Peti tersebut lalu dibawa kedaerah utara Wanakerta untuk dikuburkan. Setelah selesai penguburan pusaka, Tumenggung Bule menuju Telar asem untuk membuat gubug tempat tinggal.
Ki Gede Blewuk yang memilik pusaka golok cabang itu sangat terkenal dengan sebutan namanya “Blewuk” , oleh karena kebiasaannya memakai pakaian yang serba hitam, mulai topi, baju, celana komprang, hungga alas kaki. Pada masa itu masyarakat Wanakerta dilarang memakai pakaian yang serba hitam oleh karena dianggap menghina Ki Blewuk.
Ki Gede blewuk memasuki daerah Wanakerta sebelah timur setelah mendapat kabar akan kedatangan tamu dari Ratu Galuh. Seluruh warga wanakerta bersama Ki Blewuk menyambut kedatangan Ratu Galuh bersama rombongannya. Akibat menempuh perjalanan yang cukup jauh, Ratu galuh bersama rombongannya merasakan  haus yang tiada terkira. Menyaksikan Ratu Galuh kehausan , Ki blewuk segera menancapkan tongkatnya pada tanah disamping Ratu Galuh duduk. Airpun memancar dengan deras dan jernih, sehingga tanpa dikomando Ratu Galuh bersama rombongannya segera minum air tuk itu.
Sebenarnya kedatangan Ratu galuh ke Wanakerta bukan untuk berdamai, melainkan untuk berperang melawan Ki Blewuk beserta masyarakatnya. Ki Blewuk terpaksa meladeni keinginan Ratu galuh, bertanding satu lawan satu. Setelah bertarung cukup lama, Ratu galuh beserta pasukannya terdesak mundur  yang akhirnya mereka tunduk. Untuk mengenang peristiwa Tuk memancarkan air jernih yang melimpah  ( Mudal – Bahasa Sunda )Ki Gede Wanakerta menamakan daerah itu Tukmudal
Susunan Kuncen
1.       Sakat
2.       Sarjani
3.       Kawi
4.       Kadani
5.       Jamsari
6.       H. Safi’i

SEJARAH KESEPUHAN


Rumah Adat Kasepuhan
Sejarah adanya Masyarakat Adat berdiri pada Tahun 611 M bertempat di Sajira Banten. Dengan lama kepemimpinannya adalah 500 Tahun, Pemimpin yang pertaman bernama ABAH AGUNG.

Pada Tahun 1.100 M, pindah ke Limbang Kuning. Di Limbang Kuning sampai Tahun 1.400 M disitu tidak ada keturunan . Diakhir Tahun 1.400 m barulah ada keturunan Pertama bernama AKI BUYUT BAO ROSA, dan istrinya bernama AMBU SAMPIH. Selama 150 Tahun dia bertempat di Cipatat Bogor.


Dari Cipatat berpindah lagi ke MAJA. Setelah beliau wapat, Kasepuhan diteruskan oleh anaknya yang bernama AKI BUYUT WARNING dan istrinya bernama NINI BUYUT SAMSIAH. Beliau menjadi Kasepuhan selama 202 Tahun di Maja lalu pindah ke LEBAK LARANG.

Leuit (Lumbung Padi)
Tiga Tahun diLebak Larang, beliau meninggal. Kasepuhan diteruskan oleh AKI BUYUT KAYON Tempat pun berpindah ke Lebak Binong selama 27 tahun.

Diakhir hayat Buyut Kayon  generasi penerusnya saat itu belum dewasa yang bernama AKI BUYUT CEBOL, sehingga kepemimpinan Kasepuhan diwarnen oleh AKI BUYUT SANTAYAN di Pasir Talaga. Selama 23 Tahun Aki Buyut Santayan memimpin.  Warnen adalah  orang yang diserahi menjadi Pemangku adat karena penerusnya belum dewasa.

Dimasa AKI BUYUT CEBOL dewasa barulah beliau menjadi pemimpin Kasepuhan. Beliau bertempat di TEGAL LUMBU  selama 32 Tahun, dan diteruskan oleh UYUT JASIUN lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama hanya 7 Tahun beliau pindah ke Bojong selama 17 Tahun.

Setelah Uyut Jasiun wafat, pemimpin kasepuhan digantikan oleh penerusnya yaitu Uyut Rusdi. Pada Tahun 1940 Uyut Rusdi  pindah ke Cicemet. Di Cicemet, Uyut Rusdi membuka hutan  menjadi pemukiman. 16 Tahun kemudian,  beliau berpindah lagi ke Sirnaresmi  tahun 1956, dan pada tahun 1960 beliau wafat. Kasepuhan diganti Oleh ABAH ARJO.

Selang waktu 15 tahun Abah Arjo pun pindah ke Ciganas dan hanya 7 Tahun di Ciganas kemudian beliau wapat pada tahun 1982. Kasepuhan waktu itu digantikan oleh ABAH ENCUP SUCIPTA ( Abah Anom ). Tahun 1983 Beliau pindah ke Ciptarasa selama 17 Tahun.

Pada tahun 1985 Kesepuhan terpecah  menjadi dua Yaitu
     1.  Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )
2.     Kasepuhan Sirna Resmi ( Abah Ujat Sujati ).
Tahun 2.000 Abah Anom pindah ke Ciptagelar. Dan pada Tahun 2002 Abah Ujat Sujati mengakhiri hidupnya. Pada waktu itu pula Kasepuhan Sirna Resmi menjadi dua
1.     Kasepuhan Sinar Resmi  ( Abah Asep Nugraha )
2.     Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum Sukmawijaya)

Pada Tahun 2007 Abah Anom meninggal dunia dan Kasepuhan dilanjutkan oleh anaknya ABAH UGI SUGRIANA RAKASIWI.

Sejak tahun 2002 Kasepuhan menjadi 3 :

1.  Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )
2.  Kasepuhan Sinar Resmi  ( Abah Asep nugraha ) 3
3.  Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum sukmawijaya)